Hallo
Everybody Gays, Gimana keadaan kalian?? Aku berharap kalian baik-baik saja.
Nah Aku
disini, yang bernama M. Andre Priambudi Semester Empat, Fakultas/Prodi: Dakwah & Komunikasi/ Manajemen Dakwah Akan Menjelaskan Aset
Dalam Pandangan Islam. Tapi Sebelum masuk materi lebih dalam, pasti kalian
bingung dan banyak pertanyaan seperti ini:
1. Siapa
sih yang ga tau aset?
2. Terus apa aja sih, yang bisa dikatagorikan aset?
3. Terus
Macam-Macam Aset itu, apa saja ya?
Ya gini gays, semua pasti tau apa itu aset.
bahkan diri kita pun, sudah bisa dikatakan memiliki aset terbesar. bukan cuman
diri kita memiliki aset, tapi aset juga memiliki dua unsur yang berbeda. Ada
Aset yang berwujud dan Aset yang tak berwujud. Contoh Aset
Berwujud: Mobil, Sepeda Onthel, Motor,
Gigi, Topi, Mobil, Jam Tangan, Rumah Seisinya, Dan Lain-Lain. Contoh Aset Tak Berwujud:
Kepercayaan, Nama Baik, Jasa, Dan Lain-Lain.
Nah tadi saya sedikit membahas tentang macam-macam
bentuk aset, nah disini saya juga akan menjelaskan tentang hubungan aset
terbesar kepada allah adalah Selalu Menunaikan Ibadah....
BAGI seorang Muslim, iman adalah segalanya.
Iman adalah aset paling berharga dan menjadi kriteria pertama diterima atau
tidaknya amalan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, sebagaimana
lazimnya setiap aset berharga di dunia ini, ia selalu terancam bahaya. Banyak
pihak yang mengintai dan ingin mencurinya. Maka tidak sedikit orang yang
imannya lenyap, lalu mati dalam keadaan tidak memilikinya lagi. Tentu kita
tidak ingin mengalaminya. Tetapi bagaimana menjaga iman supaya tidak hilang?
Dalam al-Qur`an, ketiadaan iman disebut juga dengan
ketersesatan (dhalal). Dan, pada dasarnya tidak ada manusia yang disesatkan
oleh Allah, kecuali orang-orang yang fasiq. Dengan kata lain, bila manusia
telah menjadi fasiq, ia pasti akan tersesat. Allah berfirman;
الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ
وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ
أُولَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“…dan, tidak ada yang disesatkan dengannya kecuali
orang-orang yang fasiq. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah
sesudah perjanjian itu teguh, memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada
mereka) untuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka
itulah orang-orang yang merugi.” (QS: Al-Baqarah [2]: 27).
Jelas bahwa kefasiqan adalah
kondisi ketika seseorang menelantarkan imannya, memperturutkan hawa nafsu, dan
tidak mempedulikan hukum-hukum Allah. Ketika itulah imannya menjadi rapuh, lalu
setan merampasnya. Maka,
dalam al-Fiqh al-Akbar, Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak boleh kita katakan
bahwa setan merampas iman dari hati seorang hamba yang mukmin secara paksa dan
sewenang-wenang. Namun, kita katakan bahwa seorang hamba itu meninggalkan
imannya sehingga pada saat itulah setan merampasnya.”
Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin
Imam al-Ghazali menyatakan, " Keimanan sangat mudah goyah pada awal mula
pertumbuhannya, apalagi di kalangan anak kecil dan kaum awam. Oleh karenanya
iman harus selalu diperkokoh. Selanjutnya beliau berkata, “Jalan untuk
menguatkan dan meneguhkan iman bukanlah dengan mempelajari kemahiran berdebat
dan teologi (ilmu kalam), akan tetapi dengan (1) menyibukkan diri membaca
al-Qur`an berikut tafsirnya, (2) membaca Hadits disertai maknanya, dan (3)
menyibukkan diri dengan menunaikan berbagai tugas ibadah. Dengan demikian
kepercayaannya senantiasa bertambah kokoh oleh dalil dan hujjah al-Qur`an yang
mengetuk pendengarannya, juga oleh dukungan Hadits-hadits beserta faidahnya
yang ia temukan, kemudian oleh pendar cahaya ibadah dan tugas-tugasnya. Hal itu
juga diiringi dengan (4) menyaksikan kehidupan orang-orang shalih, bergaul
dengan mereka, memperhatikan tindak-tanduk mereka, mendengar petuah-petuah
mereka, juga melihat perilaku mereka dalam ketundukannya kepada Allah, rasa
takut mereka kepada-Nya, serta kemantapan mereka kepada-Nya.”
Bila hanya ada orang-orang jahat di
sekitarnya, maka masing-masing hanya peduli pada urusan perut dan syahwat, lalu
satu sama lain akan menghalangi dari akhirat.
Dikisahkan oleh al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab al-Ikhwan, bahwa ‘Atha’
al-Khurasani pernah bertanya kepada Muhammad bin Wasi’, “Amal apakah yang
paling utama di dunia ini?” Dijawab, “Menemani teman dan bercakap-cakap dengan
saudara, apabila mereka saling bersahabat di atas kebajikan dan taqwa.” Beliau
melanjutkan, “Ketika itulah Allah akan menghadirkan kemanisan di antara mereka,
sehingga mereka terhubung dan saling menyambungkan hubungan. Tiada kebaikan dalam
menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara jika mereka menjadi budak dari
perutnya masing-masing, sebab jika mereka seperti ini maka satu sama lain akan
saling menghalangi dari akhirat.”
Oleh karenanya Allah mengajari kita sebuah doa
agar iman dan hidayah senantiasa tertanam di hati dan tidak dilenyapkan-Nya.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan
hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami,
dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; Sesungguhnya Engkau Maha
Pemberi (karunia).” (QS: Ali ‘Imran [3]: 8).
Dari Anas Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mengucapkan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى
دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati,
tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
Anas Radhiallahu ‘anhu berkata, “Maka kami
(para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan
kepada wahyu yang engkau bawa, maka apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’
Beliau menjawab, “Ya, sesungguhnya hati itu
berada di antara jari-jari Allah ‘Azza wa Jalla, Dialah yang
membolak-balikkannya” *M.Alimin Mukhtar, guru di Ar-Rahmah Boarding School,
Pesantren Hidayatullah Malang*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar