Minggu, 18 Maret 2018

Sesibuk Apapun, Jangan Lupakan Aset Kepada Allah Yaitu Menunaikan Ibadah


Hallo Everybody Gays, Gimana keadaan kalian?? Aku berharap kalian baik-baik saja.
Nah Aku disini, yang bernama M. Andre Priambudi Semester Empat, Fakultas/Prodi: Dakwah & Komunikasi/ Manajemen Dakwah Akan Menjelaskan Aset Dalam Pandangan Islam. Tapi Sebelum masuk materi lebih dalam, pasti kalian bingung dan banyak pertanyaan seperti ini:
1. Siapa sih yang ga tau aset? 
2. Terus apa aja sih, yang bisa dikatagorikan aset?
3. Terus Macam-Macam Aset itu, apa saja ya?
Ya gini gays, semua pasti tau apa itu aset. bahkan diri kita pun, sudah bisa dikatakan memiliki aset terbesar. bukan cuman diri kita memiliki aset, tapi aset juga memiliki dua unsur yang berbeda. Ada Aset yang berwujud dan Aset yang tak berwujud. Contoh Aset Berwujud: Mobil, Sepeda Onthel, Motor, Gigi, Topi, Mobil, Jam Tangan, Rumah Seisinya, Dan Lain-Lain. Contoh Aset Tak Berwujud: Kepercayaan, Nama Baik, Jasa, Dan Lain-Lain.
Nah tadi saya sedikit membahas tentang macam-macam bentuk aset, nah disini saya juga akan menjelaskan tentang hubungan aset terbesar kepada allah adalah Selalu Menunaikan Ibadah....

BAGI seorang Muslim, iman adalah segalanya. Iman adalah aset paling berharga dan menjadi kriteria pertama diterima atau tidaknya amalan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, sebagaimana lazimnya setiap aset berharga di dunia ini, ia selalu terancam bahaya. Banyak pihak yang mengintai dan ingin mencurinya. Maka tidak sedikit orang yang imannya lenyap, lalu mati dalam keadaan tidak memilikinya lagi. Tentu kita tidak ingin mengalaminya. Tetapi bagaimana menjaga iman supaya tidak hilang?
Dalam al-Qur`an, ketiadaan iman disebut juga dengan ketersesatan (dhalal). Dan, pada dasarnya tidak ada manusia yang disesatkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang fasiq. Dengan kata lain, bila manusia telah menjadi fasiq, ia pasti akan tersesat. Allah berfirman;
الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“…dan, tidak ada yang disesatkan dengannya kecuali orang-orang yang fasiq. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS: Al-Baqarah [2]: 27).
Jelas bahwa kefasiqan adalah kondisi ketika seseorang menelantarkan imannya, memperturutkan hawa nafsu, dan tidak mempedulikan hukum-hukum Allah. Ketika itulah imannya menjadi rapuh, lalu setan merampasnya. Maka, dalam al-Fiqh al-Akbar, Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak boleh kita katakan bahwa setan merampas iman dari hati seorang hamba yang mukmin secara paksa dan sewenang-wenang. Namun, kita katakan bahwa seorang hamba itu meninggalkan imannya sehingga pada saat itulah setan merampasnya.”
Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin Imam al-Ghazali menyatakan, " Keimanan sangat mudah goyah pada awal mula pertumbuhannya, apalagi di kalangan anak kecil dan kaum awam. Oleh karenanya iman harus selalu diperkokoh. Selanjutnya beliau berkata, “Jalan untuk menguatkan dan meneguhkan iman bukanlah dengan mempelajari kemahiran berdebat dan teologi (ilmu kalam), akan tetapi dengan (1) menyibukkan diri membaca al-Qur`an berikut tafsirnya, (2) membaca Hadits disertai maknanya, dan (3) menyibukkan diri dengan menunaikan berbagai tugas ibadah. Dengan demikian kepercayaannya senantiasa bertambah kokoh oleh dalil dan hujjah al-Qur`an yang mengetuk pendengarannya, juga oleh dukungan Hadits-hadits beserta faidahnya yang ia temukan, kemudian oleh pendar cahaya ibadah dan tugas-tugasnya. Hal itu juga diiringi dengan (4) menyaksikan kehidupan orang-orang shalih, bergaul dengan mereka, memperhatikan tindak-tanduk mereka, mendengar petuah-petuah mereka, juga melihat perilaku mereka dalam ketundukannya kepada Allah, rasa takut mereka kepada-Nya, serta kemantapan mereka kepada-Nya.”

Bila hanya ada orang-orang jahat di sekitarnya, maka masing-masing hanya peduli pada urusan perut dan syahwat, lalu satu sama lain akan menghalangi dari akhirat.
Dikisahkan oleh al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab al-Ikhwan, bahwa ‘Atha’ al-Khurasani pernah bertanya kepada Muhammad bin Wasi’, “Amal apakah yang paling utama di dunia ini?” Dijawab, “Menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara, apabila mereka saling bersahabat di atas kebajikan dan taqwa.” Beliau melanjutkan, “Ketika itulah Allah akan menghadirkan kemanisan di antara mereka, sehingga mereka terhubung dan saling menyambungkan hubungan. Tiada kebaikan dalam menemani teman dan bercakap-cakap dengan saudara jika mereka menjadi budak dari perutnya masing-masing, sebab jika mereka seperti ini maka satu sama lain akan saling menghalangi dari akhirat.”

Oleh karenanya Allah mengajari kita sebuah doa agar iman dan hidayah senantiasa tertanam di hati dan tidak dilenyapkan-Nya.
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).” (QS: Ali ‘Imran [3]: 8).
Dari Anas Radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak mengucapkan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
Anas Radhiallahu ‘anhu berkata, “Maka kami (para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada wahyu yang engkau bawa, maka apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?’
Beliau menjawab, “Ya, sesungguhnya hati itu berada di antara jari-jari Allah ‘Azza wa Jalla, Dialah yang membolak-balikkannya” *M.Alimin Mukhtar, guru di Ar-Rahmah Boarding School, Pesantren Hidayatullah Malang*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar